Diposting oleh rahmat wiranta blog's
Untuk artikel tentang nama orang-orang Indonesia, lihat Nama Indonesia
Catatan masa laluenyebut kepulauan di antara Indocina dan Australia dengan aneka nama.
Kronik-kronik bangsa Tionghoa menyebut kawasan ini sebagai Nan-hai ("Kepulauan Laut Selatan").
Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara ("Kepulauan Tanah Seberang"), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa ("Pulau Emas", diperkirakan Pulau Sumatera sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.
Bangsa Arab menyebut wilayah kepulauan itu sebagai Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan, benzoe, berasal dari nama bahasa Arab, luban jawi ("kemenyan Jawa"), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatera. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil "orang Jawa" oleh orang Arab, termasuk untuk orang Indonesia dari luar Jawa sekali pun. Dalam bahasa Arab juga dikenal nama-nama Samathrah (Sumatera), Sholibis (Pulau Sulawesi), dan Sundah (Sunda) yang disebut kulluh Jawi ("semuanya Jawa").
Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari orang Arab, Persia, India, dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah Hindia. Jazirah Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang", sementara kepulauan ini memperoleh nama Kepulauan Hindia (Indische Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien) atau Hindia Timur (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang kelak juga dipakai adalah "Kepulauan Melayu" (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l'Archipel Malais).
Unit politik yang berada di bawah jajahan Belanda memiliki nama resmi Nederlandsch-Indie (Hindia-Belanda). Pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur) untuk menyebut wilayah taklukannya di kepulauan ini.
Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah memakai nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan Indonesia, yaitu "Insulinde", yang artinya juga "Kepulauan Hindia" (dalam bahasa Latin "insula" berarti pulau). Nama "Insulinde" ini selanjutnya kurang populer, walau pernah menjadi nama surat kabar dan organisasi pergerakan di awal abad ke-20.
Daftar isi [sembunyikan]

1 Nama Indonesia
2 Politik
3 Lihat pula
4 Rujukan
5 Pranala luar
6 Referensi
[sunting]Nama Indonesia

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA, BI: "Jurnal Kepulauan Hindia dan Asia Timur")), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.
Dalam JIAEA volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations ("Pada Karakteristik Terkemuka dari Bangsa-bangsa Papua, Australia dan Melayu-Polinesia"). Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia ("nesos" dalam bahasa Yunani berarti "pulau"). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dari Bahasa Inggris):
"... Penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu masing-masing akan menjadi "Orang Indunesia" atau "Orang Malayunesia"".
Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (sebutan Srilanka saat itu) dan Maldives (sebutan asing untuk Kepulauan Maladewa). Earl berpendapat juga bahwa bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.
Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago ("Etnologi dari Kepulauan Hindia"). Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah Indian Archipelago ("Kepulauan Hindia") terlalu panjang dan membingungkan. Logan kemudian memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia. [1]
Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia):
"Mr Earl menyarankan istilah etnografi "Indunesian", tetapi menolaknya dan mendukung "Malayunesian". Saya lebih suka istilah geografis murni "Indonesia", yang hanya sinonim yang lebih pendek untuk Pulau-pulau Hindia atau Kepulauan Hindia"
Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. [1]
Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel ("Indonesia atau Pulau-pulau di Kepulauan Melayu") sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara di kepulauan itu pada tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indië tahun 1918. Pada kenyataannya, Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.
Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 ia mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.
Nama Indonesisch (pelafalan Belanda untuk "Indonesia") juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch ("Hindia") oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander ("pribumi") diganti dengan Indonesiër ("orang Indonesia").
[sunting]


Politik

Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Sebagai akibatnya, pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu. [1]
Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.
Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya,
"Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut "Hindia-Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesiër) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya."
Di Indonesia Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama "Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa, dan bahasa pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.
Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; parlemen Hindia-Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama Indonesië diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch-Indie". Permohonan ini ditolak.
Dengan pendudukan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia-Belanda". Pada tanggal 17 Agustus 1945, menyusul deklarasi Proklamasi Kemerdekaan, lahirlah Republik Indonesia.
Diposting oleh rahmat wiranta blog's
Located in Tasikmalaya, West Java

Gunung Galunggung, Singa yg Tidur Lelap

Gunung berketinggian 2,167m mdpl, terletak 20km baratdaya kota Tasikmalaya. Dalam sejarahnya pernah meletus bbrp kali, terakhir tahun 1982. Letusan terakhir bertipe “vulcanian vertical” (spt letusan cendawan bom atom) mencapai ketinggian 20 km ke angkasa, diikuti semburan piroclastic (debu halus) yg menghujani kota Bandung, Tasik, Garut, Cianjur dan kota lainnya dlm radius 100km. Debu tebal selama 4 bulan yg mengguyur kota2 tsb. membuat kesengsaraan yg cukup. Setelah letusan, 100,000 ha daerah sekitar rata dgn tanah tertimpa batu, lahar dan debu, Puncak gunungnya telah runtuh hanyut terbawa lahar dingin ke daerah sekitarnya, batu dan pasirnya menjadi berkah yg tidak habis2nya untuk ditambang.

Pada saat letusan tsb, sebuah Jumbo Jet Boeing 747 British Airways Sidney- London BA-009 yg sedang melintas diselatan Jabar di ketinggian jelajah 11,000 meter, keempat mesinnya mati tiba2 pada saat yg hampir bersamaan, menghisap debu Galunggung, jatuh ke ketinggian 4,000 meter dlm waktu 16 menit; namun menit2 terakhir berhasil dihidupkan kembali dan mendarat darurat di Soekarno Hatta dan kembali diterbangkan setelah mengganti seluruh mesinnya dan winshield yg tergores berat debu2 silika. Sebulan kemudian SQ Flight memasuki awan galunggung, ketinggian jatuh ke 2400 meter, 3 dari 4 mesinnya mati, beruntung satu mesin berhasil dihidupkan, dan mendarat dgn selamat.

Saat ini Gunung Galunggung sedang dlm keadaan tidur lelap, sehingga dpt. Didekati dgn aman. Menilik sejarahnya, siklus berikutnya mungkin 43 tahun lagi.. Kepundan Galunggung saat ini sudah diberi 620 anak tangga utk menggapi 200m sisa ketinggianya dari tempat parkir terakhir. Dari bibir kawah, kota Tasik terlihat jelas berada di sebelah timurnya. Sejauh mata memandang terlihat pepohonan berwarna hijau, dgn batangnya yg nampak masih kecil2. Memandang kearah dalam, dpt disaksikan 40 ha danau baru bentukan letusan 1982 berwarna kehijauan.

Air danau dijaga tidak melebihi 1 juta m3 dgn mengalirkan sisanya melalui terowongan pelimpah ke sungai Cibanjaran dan Cikunir di timur kaldera. Tanpa campur tangan manusia ini, dinding kawah bisa jebol membuat air bah dahsyat spt. yg pernah terjadi di G. Kelud di Kediri ditahun 1920-an. Air sungai yg cukup hangat, bisa dinikmati di pemandian bernama Cipanas atau sungainya yg berada 3km sebelum kawah tak jauh dari tempat parkir bawah.

Dinding kaldera berbentuk tapal kuda. Dari kedua ujungnya kita bisa turun ke dasar kaldera dgn hati2. Di lantai kawah, selain danau juga terdapat aliran sungai dgn batu batuan yg sebesar kepala kerbau berserakan dimana-mana. Salah satu tempat yg dituju didasar kaldera adalah sebuah Mesjid yg berada kira2 2 km di ujung selatan dekat dinding kawah baru. Dibelakang mesjid tsb. terdapat semacam gua kecil, tempat bermeditasi. Di dasar kawah, di pinggir danau, di sepanjang sungai yg mengalir ataupun didekat Masjid, adalah tempat yg biasa dipakai utk berkemah.

Untuk mencapai kawah Galungggung tdk terlalu sulit, dari tepi jalan Bandung-Tasikmalaya tepatnya di kawasan Indihiang belok kanan kearah selatan, menempuh 15km jalan desa yg agak sempit bercabang-cabang tanpa plang penunjuk jalan yg jelas, cukup membingungkan pada awalnya, jadi harus sering bertanya. Juga akan sering berpapasan dgn truk pasir yg kadangkala salah satu kendaraan harus mundur krn di bbrp bagian jalan dan belokan yg sempit


http://www.pbase.com/archiaston/image/79813066
Diposting oleh rahmat wiranta blog's
Sejarah AC Milan dibuka pada 16 Desember 1899. Milan harus berterimakasih pada 3 orang Inggris : Herbert Kilpin, Allison, dan Davies yang beride cemerlang untuk mendirikan AC Milan Football Club. Sayang, tiga sekawan itu tak punya cukup uang untuk merealisasikan ide mereka. Maka, dirangkullah Alfred Edwards dan Mr. Barnetts yang cukup kaya untuk mendirikan klub terbaik di dunia. Milan pun resmi berdiri dengan nama Milan Cricket and Football Club. Penambahan olahraga cricket ini lantaran Edwards yang terpilih sebagai presiden pertama punya misi memperkenalkan cricket selain sepakbola.

Tak lama kemudian, Milan mendaftarkan diri ke Italian Football Federation agar bisa ambil bagian dalam turnamen resmi. Debut pertama diawali dengan kemenangan 2-0 melawan Mediolanum, klub yang juga berasal dari Milan. Sebelas pemain yang diturunkan pada partai itu, kini tercatat dalam sejarah dengan tinta emas : Hoode, Cignaghi, Torreta, Lees, Kilpin, Valerio, Dubini, Davies, Neville, Allison, dan Formenti. Sang pelopor, Kilpin menjadi kapten sekaligus manajer pemain.


Milan berhasil menggondol scudetto pertamanya pada tahun 1901. Ini termasuk rekor besar karena Rossoneri sukses mematahkan dominasi Genoa yang sejak liga digelar musim 1897-98 menjadi juara tiga kali berturut-turut. Usai mencatat scudetto mereka yang ketiga pada tahun 1907, Milan mengalami penurunan prestasi. Hal ini disebabkan karena terjadi perpecahan di tubuh Milan. Sebabnya tak lain karena sebagian tim mendirikan klub tandingan sebagai wujud rasa protes mereka lantaran Milan membatasi keanggotaannya (pada awal berdiri, Milan hanya menerima pemain Italia dan Inggris saja). Milan pun pecah, sebagian anggota yang menyatakan keluar mendirikan Internazionale Football Club Milano pada 9 Maret 1908.
Diposting oleh rahmat wiranta blog's
Seperti diketahui, Pajajaran merupakan kerajaan hindu terbesar di Jawa Barat. Tidak begitu jelas siapa pendiri dan kapan berdirinya. Namun lokasinya diketahui di Bogor sekarang. Raja-raja yang pernah berkuasa diantaranya, adalah: Prabu Lingga Raja Kencana, Prabu Wastu Kencana, dan Prabu Siliwangi.

Di antara raja-raja tersebut yang paling termashyur adalah Prabu Siliwangi. Raja yang terkenal amat bijaksana ini beristrikan putri bernama Dewi Kumalawangi. Dari rahim istrinya ini lahirlah tiga orang putra, yaitu: Raden Walangsungsang, Dewi Rarasantang dan Raden Kiansantang.

Raden Kiansantang lahir di Pajajaran tahun 1315. Dia adalah seorang pemuda yang sangat cakap. Tidaklah heran jika pada usianya yang masih muda Kiansantang diangkat menjadi Dalem Bogor kedua.

Konon, raden Kiansantang juga sakti mandraguna. Tubuhnya kebal, tak bisa dilukai senjata jenis apapun. Auranya memancarkan wibawa seorang ksatria, dan sorot matanya menggetarkan hati lawan.

Diriwayatkan, prabu Kiansantang telah menjelajahi seluruh tanah Pasundan. Tapi, seumur hidupnya dia belum pernah bertemu dengan orang yang mampu melukai tubuhnya. Padahal ia ingin sekali melihat darahnya sendiri. Maka pada suatu hari, dia memohon kepada ayahnya agar dicarikan lawan yang hebat.

Untuk memenuhi permintaan putranya, Prabu Siliwangi mengumpulkan para ahli nujum. Dia meminta bantuan pada mereka untuk menunjukkan siapa dan dimana orang sakti yang mampu mengalahkan putranya.

Kemudian datang seorang kakek yang bisa menunjukkan orang yang selama ini dicari. Menurut kakek tersebut, orang gagah yang bisa mengalahkan Raden Kiansantang ada di tanah suci Mekkah, namanya Sayidina Ali.

“Aku ingin bertemu dengannya.” Tukas Raden Kiansantang.
“Untuk bisa bertemu dengannya, ada syarat yang harus raden penuhi,” ujar si kakek.

Syarat-syarat tersebut adalah:

1. Harus bersemedi dulu di ujung kulon, atau ujung barat Pasundan
2. Harus berganti nama menjadi Galantrang Setra

Dua syarat yang disebutkan tidak menjadi penghalang. Dengan segera Raden Kiansantang memakai nama Galantrang Setra. Setelah itu ia segera pergi ke ujung kulon Pasundan untuk bersemedi.

Pergi Ke Mekkah
Tak dijelaskan dengan apa Galantrang Setra pergi ke Mekkah. Yang pasti sesampainya di Arab beliau langsung mencari Sayidina Ali.
“Anda kenal dengan Sayidina Ali?” Tanya Kiansantang pada seorang lelaki tegap yang kebetulan berpapasan dengannya.
“Kenal sekali,” jawabnya.
“Kalau begitu bisakah kau antar aku kesana?”
“Bisa, asal kau mau mengambilkan tongkatku itu.”

Demi untuk bertemu dengan Ali, Kiansantang menurut untuk mengambil tongkat ya tertancap di pasir. Tapi alangkah terkejutnya ia ketika mencoba mencabut tongkat itu ia tak berhasil, bahkan meski ia mengerahkan segala kesaktiannya dan pori-porinya keluar keringat darah.

Begitu mengetahui Kiansantang tak mampu mencabut tongkatnya, maka pria itu pun menghampiri tongkatnya sambil membaca Bismillah tongkat itu dengan mudah bisa dicabut.

Kiansantang keheranan melihat orang itu dengan mudahnya mencabut tongkat tersebut sedang ia sendiri tak mampu mencabutnya.

“Mantra apa yang kau baca tadi hingga kau begitu mudah mencabut tongkat itu? Bisakah kau mengajarkan mantra itu kepadaku?”
“Tidak Bisa, karena kau bukan orang islam.”

Ketika ia terbengong dengan jawaban pria itu, seorang yang kebetulan lewat di depan mereka menyapa; “Assalamu’alaikum Sayidina Ali.”

Mendengar sapaan itulah kini ia tahu bahwa Sayidina Ali yang ia cari adalah orang yang sedari tadi bersamanya. Begitu menyadari ini maka keinginan Kiansantang untuk mengadu kesaktian musnah seketika. “Bagaimana mungkin aku mampu mengalahkannya sedang mengangkat tongkatnya pun aku tak mampu,” pikirnya.

Singkat cerita akhirnya Kiansantang masuk agama islam. Dan setelah beberapa bulan belajar agama islam ia berniat untuk kembali ke Pajajaran guna membujuk ayahnya untuk juga ikut memeluk agama islam.

Usaha Kiansantang Mengislamkan Ayahnya
Sesampainya di Pajajaran, dia segera menghadap ayahandanya. Dia ceritakan pengalamannya di tanah Mekkah dari mulai bertemu Sayidina Ali hingga masuk islam. Karena itu ia berharap ayahandanya masuk islam juga. Tapi sayangnya ajakan Kiansantang ini tak bersambut dan ayahandanya bersikeras untuk tetap memeluk agama Hindu yang sejak lahir dianutnya.

Betapa kecewanya Kiansantang begitu mendengar jawaban ayahandanya yang menolak mengikuti ajakannya. Untuk itu ia memutuskan kembali ke Mekkah demi memperdalam agama islamnya dengan satu harapan seiring makin pintarnya ia berdakwah mungkin ayahnya akan terbujuk masuk islam juga.

Setelah 7 tahun bermukin di Mekkah, Kiansantang pun kembali lagi ke Pajajaran untuk mencoba mengislamkan ayahandanya. Mendengar Kiansantang kembali Prabu Siliwangi yang tetap pada pendiriannya untuk tetap memeluk agama Hindu itu tentu saja merasa gusar. Maka dari itu, ketika Kiansantang sedang dalam perjalanan menuju istana, dengan kesaktiannya prabu Siliwangi menyulap keraton Pajajaran menjadi hutan rimba.

Bukan main kagetnya Kiansantang setelah sampai di wilayah keraton pajajaran tidak mendapati keraton itu dan yang terlihat malah hutan belantara, padahal dia yakin dan tidak mungkin keliru, disanalah keraton Pajajaran berdiri.

Dan akhirnya setelah mencari kesana kemari ia menemukan ayahandanya dan para pengawalnya keluar dari hutan.

Dengan segala hormat, dia bertanya pada ayahandanya, “Wahai ayahanda, mengapa ayahanda tinggal di hutan? Padahal ayahanda seorang raja. Apakah pantas seorang raja tinggal di hutan? Lebih baik kita kembali ke keraton. Ananda ingin ayahanda memeluk agama islam.”

Prabu Siliwangi tidak menjawab pertanyaan putranya, malah ia balik bertanya, “Wahai ananda, lantas apa yang pantas tinggal di hutan?”

“Yang pantas tinggal di hutan adalah harimau.” Jawab Kiansantang

Konon, tiba-tiba prabu Siliwangi beserta pengikutnya berubah wujud menjadi harimau. Kiansantang menyesali dirinya telah mengucapkan kata harimau hingga ayahanda dan pengikutnya berubah wujud menjadi harimau.

Maka dari itu, meski telah berubah menjadi harimau, namun Kiansantang masih saja terus membujuk mereka untuk memeluk agama islam.

Namun rupanya harimau-harimau itu tidak mau menghiraukan ajakannya. Mereka lari ke daerah selatan, yang kini masuk wilayah Garut. Kiansantang berusaha mengejarnya dan menghadang lari mereka. Dia ingin sekali lagi membujuk mereka. Sayang usahanya gagal. Mereka tak mau lagi diajak bicara dan masuk ke dalam goa yang kini terkenal dengan nama goa Sancang, yang terletak di Leuweung Sancang, di kabupaten Garut.
Diposting oleh rahmat wiranta blog's
Setelah sekian banyak catatan sejarah yang sudah saya baca dan makam/kuburan yang dianggap sebagai makam Prabu Kian Santang yang sudah saya kunjungi, akan tetapi pertanyaan tersebut [judul di atas] sampai saat ini belum saya temukan jawabannya secara pasti, bahkan semakin banyak saya cari tau, semakin tidak jelas dimanakah makam sebenarnya, Prabu Kian Santang.

Prabu Kian Santang atau Pangeran Walangsungsang atau Sunan Rohmat atau Sunan Godog atau Ki Samadullah atau Abdullah Iman atau Pangeran Cakrabuana atau Hurang Sasakan atau Sri Mangana atau Gagak Lumayung atau Maulana Ifdil Hanafi atau Haji Tan Eng Hoat dilahirkan sekitar tahun 1423 M merupakan anak pertama dari tiga bersaudara yaitu Nyai Rara Santang atau Nyai Hajjah Syarifah Mudhaim lahir sekitar tahun 1426 M dan Raja Sangara lahir sekitar tahun 1428 M. Dari hasil perkawinan antara Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang atau Nyai Subang Karancang.

Sejarah hidup Prabu Kian Santang juga terdiri dari beberapa versi, akan tetapi sejarah hidup beliau yang paling terkenal terutama oleh kalangan masyarakat Jawa Barat adalah awal mula beliau memeluk agama Islam.

Dalam Babad Godog diceritakan bahwa Kian Santang muda saat itu adalah seorang yang sangat sakti, sampai-sampai beliau tidak pernah melihat darahnya sendiri. Jiwa mudanya yang bergelora membawa beliau berkelana mencari orang yang sanggup mengalahkan beliau sampai beliau dapat melihat darahnya sendiri, hingga pada suatu saat beliau mendengar bahwa di daerah arab ada seorang yang sangat sakti mandra guna. Dengan ilmu ”napak sancang”nya (dapat berjalan di atas air) beliau sampai di wilayah arab dan bertemu dengan orang tua di pinggir pantai, dan singkat cerita mereka bertemu dan berkenalan sehingga orang tua tersebut mengajak beliau ke rumahnya dan orang tua tersebut berjanji akan mempertemukan dengan orang sakti yang dicarinya, dalam perjalanan ke rumah, tongkat orang tua tersebut tertancap dipasir, dan orang tua tersebut meminta bantuan Kian Santang untuk mengambilkannya, akan tetapi walaupuan seluruh ilmu kedigjayaan yang beliau miliki digunakan untuk mencabut tngkat tersebut, tetap saja tongkat tidak dapat diambil, sampai akhirnya keluar darah dari pori-pori tangan kian santang.

Dari kejadian tersebut Kian Santang baru menyadari bahwa orang tua yang bertemu dengannya adalah orang yang dicarinya, orang tua tersebut adalah Syaidina Ali bin Abu Thalib ra., akhirnya beliau pun insyaf atas kesombongannya dan memeluk agama Islam.

Dalam cerita lain pula ada yang menyebutkan bahwa beliau memeluk Islam dibai’at langsung oleh Rasulullah SAW., kedua kisah tersebut jika dirunut berdasarkan periode waktu beliau di lahirkan dengan periode Rasulullah dan para Sahabat sangat terpaut jauh periodenya yaitu sekitar kurang lebih delapan abad. Wallahualam…

Berdasarkan sumber lain di ceritakan pula bahwa beliau sudah memeluk agama Islam sejak kecil/lahir, karena beliau adalah cucu dari Syekh Quro dari karawang, ayah dari ibunya yaitu Nyai Subang Larang. Kemudian beliau belajar agama Islam pada Syekh Datuk Kahfi di Cirebon, dan pergi ke tanah suci untuk melakukan haji sekaligus memperdalam ilmu agama Islam bersama adiknya yaitu Nyai Rara Santang.

Setelah kembali ke tanah Jawa, beliau mendirikan kerajaan Cirebon dan menyebarkan agama Islam, sampai suatu waktu beliau mengajak ayahnya yaitu Prabu Siliwangi untuk memeluk agama Islam, tapi walau pun Prabu Siliwangi sudah menyadari bahwa agama Islam adalah agama yang benar, karena Nyai Subang Larang istri Prabu Siliwangi, Ibunda Kian santang Sendiri adalah seorang muslimah, akan tetapi ayah beliau Prabu Siliwangi belum diberikan hidayah oleh Allah SWT. untuk memeluk agama Islam.

Sampai terjadilah suatu kejadian yang terkenal pula kisahnya dikalangan masyarakat Jawa Barat yaitu kisah dikejar-kejarnya Prabu Siliwangi oleh Kian Santang dan dalam proses pengejaran itu masing-masing menggunakan ilmu ”nurus bumi” yaitu berlari dibawah tanah. Sampai di sebuah hutan di daerah Tasikmalaya Garut yang bernama hutan Sancang mereka bertemu dan bertarung mengadu kesaktian.

Akan tetapi Prabu Siliwangi kalah dalam pertarungan tersebut dan Prabu Siliwangi dengan kebijaksanaanya mempersilahkan pengikutnya untuk mengikuti ajaran Kian Santang, cerita ini termaktub dalam Uga Wangsit Prabu Siliwangi.

Perjalan panjang hidup Kian Santang yang berkelana antara wilayah tatar Sunda dan Cirebon, hal ini lah menjadikan makam beliau ada dimana-mana yaitu diantaranya di komplek pemakamam Gunung Jati – Cirebon, di daerah Godog – Garut – Jawa Barat, di daerah hutan Sancang – Garut – Jawa Barat, dan dibeberapa tempat lainnya. Dan untuk makam asli beliau tidak ada yang tau pasti, tapi jika mengikuti perjalanan sejarah, makam yang berada di komplek pemakaman kesultanan Cirebon yang ada di wilayah Gunung Jati, yang lebih mendekati kebenaranan.

Makam yang berada ditempat lain hanya merupakan suatu simbol yang dibuat oleh masyarakat diwilayah tersebut yang menunjukan bahwa beliau pernah ke wilayah tersebut (patilasan [sunda: bekas singgah]). Hal ini sama seperti makam-makam seorang nabi yang berada di beberapa tempat.
Diposting oleh rahmat wiranta blog's
Islamisasi Dinasti Prabu Siliwangi
Oleh AHMAD MANSUR SURYANEGARA
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1104/22/teropong/lainnya2.htm

DINASTI Sang Prabu Siliwangi pada abad ke-15,
menjadikan Islam sebagai agamanya secara aman dan
damai. Diawali dengan sebab adanya pernikahan kedua
Sang Prabu Siliwangi dengan Subang Larang putri Ki
Gedeng Tapa, Syah Bandar Cirebon. Subang Larang adalah
santri Syekh Kuro atau Syekh Hasanuddin dengan
pesantrennya di Karawang. Dinasti Sang Prabu Siliwangi
dari pernikahannya dengan Subang Larang, terlahirlah
tiga orang putra putri. Pertama, Pangeran
Walangsungsang, kedua, Nyai Lara Santang dan ketiga
Raja Sangara. Ketiga-tiganya masuk Islam.

Pesantren Syekh Kuro

Syekh Kuro yang dikenal pula dengan nama Syekh
Hasanuddin, memegang peranan penting dalam masuknya
pengaruh ajaran Islam ke keluarga Sang Prabu
Siliwangi. Persahabatan Ki Gedeng Tapa dengan Syekh
Kuro, menjadikan putrinya, Subang Larang masantren di
Pesantren Syekh Kuro. Adapun kedudukan Ki Gedeng Tapa
adalah sebagai Syahbandar di Cirebon. Menggantikan Ki
Gedeng Sindangkasih setelah wafat. Ki Gedeng Tapa
dikenal pula dengan nama Ki Gedeng Jumajan Jati.

Dalam Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari-CPCN karya
Pangeran Arya Cirebon yang ditulis (1720) atas dasar
Negarakerta Bumi, menuturkan bahwa Ki Gedeng
Sinangkasih memiliki kewenangan yang besar. Tidak
hanya sebagai Syahbandar di Cirebon semata. Ternyata
juga memiliki kewenangan mengangkat menantunya, Raden
Pamanah Rasa sebagai Maharaja Pakwan Pajajaran dengan
gelar Sang Prabu Siliwangi.

Adapun istri pertama Sang Prabu Siliwangi adalah Nyi
Ambet Kasih putri kandung Ki Gedeng Sindangkasih.
Istri kedua, Subang Larang putri Ki Gedeng Tapa.
Isteri ketiga, Nyai Aciputih Putri dari Ki Dampu
Awang.

Dari peristiwa pergantian kedudukan di atas ini,
antara Ki Gedeng Tapa dan Sang Prabu Siliwangi
memiliki kesamaan pewarisan. Keduanya memperoleh
kekuasaan berasal dari Ki Gedeng Sindangkasih setelah
wafat. Hubungan antara keduanya dikuatkan dengan
pertalian pernikahan. Sang Prabu Siliwangi
mempersunting putri Ki Gedeng Tapa yakni Subang
Larang. Dengan demikian Sang Prabu Siliwangi adalah
menantu Ki Gedeng Tapa.

Pernikahan di atas ini, mempunyai pengaruh yang besar
terhadap kekuasaan politik yang sedang diemban oleh
Sang Prabu Siliwangi. Tidaklah mungkin kelancaran
kehidupan Kerajaan Hindu Pajajaran, tanpa kerja sama
ekonomi dengan Syahbandar Cirebon, Ki Gedeng Tapa.
Begitu pula sebaliknya, Ki Gedeng Tapa tidak mungkin
aman kekuasaannya sebagai Syahbandar, bila tanpa
perlindungan politik dari Sang Prabu Siliwangi. Guna
memperkuat power of relation antar keduanya, maka
diikat dengan tali pernikahan.

Pengaruh eksternal

Pengaruh islamisasi terhadap Dinasti Sang Prabu
Siliwangi tidak dapat dilepaskan hubungan dengan
pengaruh Islam di luar negeri. Di Timur Tengah,
Fatimiyah (1171) dan Abbasiyah (1258) memang sudah
tiada digantikan oleh kekuasaan Mamluk di Mesir dan
Mongol di Baghdad. Namun pada kelanjutan Dinasti Khu
Bilai Khan, Mongol pun memeluk Islam. Kemudian
membangun kekaisaran Mongol Islam di India.

Perkembangan kekuasaan politik Islam di Timur Tengah
di bawah Turki semakin berjaya. Konstantinopel dapat
dikuasainya (1453). Di Cina Dinasti Ming (1363-1644)
memberikan kesempatan orang-orang Islam untuk duduk
dalam pemerintahan. Antara lain Laksamana Muslim Cheng
Ho ditugaskan oleh Kaisar Yung Lo memimpin misi
muhibah ke-36 negara. Antara lain ke Timur Tengah dan
Nusantara (1405-1430). Membawa pasukan muslim 27.000
dengan 62 kapal. Demikian penuturan Lee Khoon Choy,
dalam Indonesia Between Myth and Reality. Di Cirebon
Laksmana Cheng Ho membangun mercusuar. Di Semarang
mendirikan Kelenteng Sam Po Kong.

Misi muhibah Laksamana Cheng Ho tidak melakukan
perampokan atau penjajahan. Bahkan memberikan bantuan
membangun sesuatu yang diperlukan oleh wilayah yang
didatanginya. Seperti Cirebon dengan mercusuarnya.
Oleh karena itu, kedatangan Laksamana Cheng Ho
disambut gembira oleh Ki Gedeng Tapa sebagai
Syahbandar Cirebon.

Perubahan tatanan dunia politik dan ekonomi yang
dipengaruhi oleh Islam seperti di atas, berdampak
besar dalam keluarga Sang Prabu Siliwangi. Terutama
sekali pengaruhnya terhadap Ki Gedeng Tapa sebagai
Syahbandar di Cirebon.

Karena sangat banyak kapal niaga muslim yang berlabuh
di pelabuhan Cirebon, kapal niaga dari India Islam,
Timur Tengah Islam dan Cina Islam. Pembangunan
mercusuar di pelabuhan Cirebon memungkinkan tumbuhnya
rasa simpati Ki Gedeng Tapa sebagai Syahbandar Cirebon
terhadap Islam. Dapat dilihat dari putrinya Subang
Larang, sebelum dinikahkan dengan Sang Prabu
Siliwangi, dipesantrenkan terlebih dahulu ke Syekh
Kuro. Di bawah kondisi keluarga dan pengaruh eksternal
yang demikian ini, putra putri Sang Prabu Siliwangi
mencoba lebih mendalami Islam dengan berguru ke Syekh
Datuk Kahfi dan Naik Haji.

Gunung dan guru

Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari kelanjutannya
menuturkan, setiap dalam upaya pencarian guru pasti
tempat tinggalnya ada di Gunung. Tampaknya sudah
menjadi rumus, para Guru Besar Agama atau Nabi selalu
berada di Gunung. Dapat kita baca Rasulullah saw juga
menerima wahyu Al Quran dan diangkat sebagai Rasul di
Jabal Nur. Jauh sebelumnya, Nabi Adam as dijumpakan
kembali dengan Siti Hawa ra, di Jabal Rahmah.

Tempat pendaratan Kapal Nuh as setelah banjir mereda
di Jabal Hud. Pengangkatan Musa as sebagai Nabi di
Jabal Tursina. Demikian pula Wali Sanga selalu terkait
aktivitas dakwah atau ma kamnya dengan gunung. Tidak
berbeda dengan kisah islamisasi putra putri Prabu
Siliwangi erat hubungannya dengan guru-guru yang
berada di gunung.

Subang Larang tidak mungkin mengajari Islam putra
putrinya sendiri di istana Pakuan Pajajaran. Diizinkan
putra pertamanya Pangeran Walangsungsang untuk berguru
ke Syekh Datuk Kahfi di Gunung Amparan Jati. Di sini
Pangeran Walangsungsang diberi nama Samadullah.

Walaupun demikian Pangeran Walangsungsang harus pula
berguru kedua guru Sanghyang Naga di Gunung Ciangkap
dan Nagagini di Gunung Cangak. Di sini Pangeran
Walangsungsang diberikan gelar Kamadullah. Di Gunung
Cangak ini pula berhasil mengalahkan Raja Bango.
Pangeran Walangsungsang diberi gelar baru lagi Raden
Kuncung. Dari data yang demikian, penambahan atau
pergantian nama memiliki pengertian sebagai ijazah
lulus dan wisuda dari studi di suatu perguruan.

Dengan cara yang sama Lara Santang harus pula mengaji
ke Syekh Datuk Kahfi Cirebon. Dalam Naskah Babad
Cirebon dikisahkan Lara Santang sebelum sampai ke
Cirebon, berguru terlebih dahulu ke Nyai Ajar Sekati
di Gunung Tangkuban Perahu. Kemudian menyusul berguru
ke Ajar Cilawung di Gunung Cilawung. Di sini setelah
lulus diberi nama Nyai Eling.

Naik haji

Atas anjuran Syekh Datuk Kahfi agar Pangeran
Walangsungsang dan Lara Santang Naik Haji. Ternyata
dalam masa Ibadah Haji di Makkah, Lara Santang
dipersunting oleh Maolana Sultan Mahmud disebut pula
Syarif Abdullah dari Mesir. Lara Santang setelah haji
dikenal dengan nama Syarif Mudaim. Dari pernikahannya
dengan Syarif Abdullah, lahir putranya, Syarif
Hidayatullah pada 12 Mualid 1448 dikenal pula setelah
wafat dengan nama Sunan Gunung Jati. Dan putra kedua
adalah Syarif Nurullah.

Walangsungsang setelah haji, dikenal dengan nama Haji
Abdullah Iman. Karena sebagai Kuwu di Pakungwati,
dikenal dengan nama Cakrabuana. Prestasi Cakrabuana
yang demikian menarik perhatian Sang Prabu Siliwangi,
diberi gelar Sri Mangana. Pengakuan Sang Prabu
Siliwangi yang demikian ini, menjadikan adik
Walangsungsang atau Cakrabuana, yakni Raja Sangara
masuk Islam dan naik haji kemudian berubah nama
menjadi Haji Mansur.

Untuk lebih lengkapnya kisah islamisasi Dinasti Sang
Prabu Siliwangi, dapat dibaca pada Dr. H. Dadan Wildan
M.Hum, Sunan Gunung Jati Antara Fiksi dan Fakta.

Silsilah Prabu Siliwangi

Kembali ke masalah pokok artikel saya di atas ini.
Suatu artikel yang saya angkat dari karya Dr. H. Dadan
Wildan M.Hum. Bagi saya sejarah Prabu Siliwangi
merupakan belukar yang sukar saya pahami. Dari karya
Dr. H. Dadan Wildan M.Hum ada bagian sangat menarik,
Carita Purwaka Caruban Nagari-CPCN karya Pangeran Arya
Cerbon 1720. Diangkat dari terjemahannya karya
Pangeran Sulendraningrat (1972), dan Drs. Atja (1986).

Prabu Siliwangi seorang raja besar dari Pakuan
Pajajaran. Putra dari Prabu Anggalarang dari dinasti
Galuh yang berkuasa di Surawisesa atau Kraton Galuh.
Pada masa mudanya dikenal dengan nama Raden Pamanah
Rasa. Diasuh oleh Ki Gedeng Sindangkasih, seorang juru
pelabuhan Muara Jati.

Istri pertama adalah Nyi Ambetkasih, putri dari Ki
Gedengkasih. Istri kedua, Nyai Subang Larang putri
dari Ki Gedeng Tapa. Ketiga, Aciputih Putri dari Ki
Dampu Awang.

Selain itu, CPCN juga menuturkan silsilah Prabu
Siliwangi sebagai ke turunan ke-12 dari Maharaja
Adimulia. Selanjutnya bila diurut dari bawah ke atas,
Prabu Siliwangi (12) adalah putra dari (11) Prabu
Anggalarang, (10) Prabu Mundingkati (9) Prabu
Banyakwangi (8) Banyaklarang (7) Prabu Susuk tunggal
(6) Prabu Wastukencana (5) Prabu Linggawesi (4) Prabu
Linggahiyang (3) Sri Ratu Purbasari (2) Prabu
Ciungwanara (1) Maharaja Adimulia. Sudah menjadi
tradisi penulisan silsilah, hanya menuliskan urutan
nama. Tidak dituturkan peristiwa apa yang dihadapi
pada zaman pelaku sejarah yang menyangdang nama-nama
tersebut. Kadang-kadang juga disebut makamnya di mana.

Pengenalan Islam

Adapun Dinasti Prabu Siliwangi yang masuk Islam adalah
dari garis ibu, Subang Larang. Dapat dipastikan dari
Subang Larang ajaran Islam mulai dikenal oleh
putra-putrinya. Walaupun Subang Larang sebagai putri
Ki Gedeng Taparaja Singapora bawahan dari Kerajaan
Pajajaran. Namun Subang Larang adalah murid dari Syekh
Hasanuddin atau dikenal pula sebagai Syekh Kuro.

Adapun putra pertama adalah Walangsungsang. Kedua,
putri Nyai Larang Santang. Ketiga, Raja Sangara. Tidak
mungkin Subang Larang dengan bebas membelajarkan
ajaran Islam secara terbuka dalam lingkungan istana.
Oleh karena itu, Walangsungsang, mempelopori
meninggalkan istana dan berguru kepada Syekh Datuk
Kahfi di Gunung Amparan Jati di Cirebon. Syekh Datuk
Kahfi dikenal pula dengan nama Syekh Nuruljati.

Dalam pengajian dengan Syekh Nurjati, diwisuda dengan
ditandai pergantian nama menjadi Ki Somadullah.
Kemudian membuka pedukuhan baru, Kebon Pesisir.
Kelanjutannya menikah dengan Nyai Kencana Larang putri
Ki Gedeng Alang Alang. Dari sini memperoleh gelar baru
Ki Wirabumi
Diposting oleh rahmat wiranta blog's
Kadangkala pendaki yang berada dikawasan alun-alun Suryakencana, akan mendengar suara kaki kuda yang berlarian, tapi kuda tersebut tidak terlihat wujudnya. Konon, kejadian ini pertanda Pangeran Suryakencana datang ke alun-alun dengan dikawal oleh para prajurit. Selain itu para pendaki kadang kala akan melihat suatu bangunan istana.
Alun-alun Surya Kencana berupa sebuah lapangan datar dan luas pada ketinggian 2.750m dpl yang berada disebelah timur puncak Gede, merupakan padang rumput dan padang edelweiss. Suryakencana adalah nama seorang putra Pangeran Aria Wiratanudatar (pendiri kota Cianjur) yang beristrikan seorang putri jin. Pangeran Suryakencana memiliki dua putra yaitu: Prabu Sakti dan Prabu Siliwangi.

Kawasan Gunung Gede merupakan tempat bersemayam Pangeran Suryakencana. Beliau bersama rakyat jin menjadikan alun2 sebagai lumbung padi yang disebut Leuit Salawe, Salawe Jajar, dan kebun kelapa salawe tangkal, salawe manggar.
Petilasan singgasana Pangeran Suryakencana berupa sebuah batu besar berbentuk pelana. Hingga kini, petilasan tersebut masih berada di tengah alun-alun, dan disebut Batu Dongdang yang dijaga oleh Embah Layang Gading. Sumber air yang berada ditengah alun-alun, dahulu merupakan jamban untuk keperluan minum dan mandi.
Di dalam hutan yang mengitari Alun-alun Surya Kencana ini ada sebuah situs kuburan kuno tempat bersemayam Prabu Siliwangi. Pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi yang menguasai Jawa Barat, terjadi peperangan melawan Majapahit. Selain itu Prabu Siliwangi juga harus berperang melawan Kerajaan Kesultanan Banten. Setelah menderita kekalahan yang sangat hebat Prabu Siliwangi melarikan diri bersama para pengikutnya ke Gunung Gede.
Sekitar gunung Gede banyak terdapat petilasan peninggalan bersejarah yang dianggap sakral oleh sebagian peziarah, seperti petilasan Pangeran Suryakencana, putri jin dan Prabu Siliwangi. Kawag Gunung Gede yang terdiri dari, Kawah Ratu, Kawah Lanang, dan Kawah Wadon, dijaga oleh Embah Kalijaga. Embah Serah adalah penjaga Lawang Seketeng (pintu jaga) yang terdiri atas dua buah batu besar. Pintu jaga tersebut berada di Batu Kukus, sebelum lokasi air terjun panas yang menuju kearah puncak.

Eyang Jayakusumah adalah penjaga Gunung Sela yang berada disebelah utara puncak Gunung Gede. Sedangkan Eyang Jayarahmatan dan Embah Kadok menjaga dua buah batu dihalaman parkir kendaraan wisatawan kawasan cibodas. Batu tersebut pernah dihancurkan, namun bor mesin tidak mampu menghancurkannya. Dalam kawasan Kebun Raya Cibodas, terdapat petilasan/ makam Eyang Haji Mintarasa.

Pangeran Suryakencana menyimpan hartanya dalam sebuah gua lawa/walet yang berada di sekitar air terjun Cibeureum. Gua tersebut dijaga oleh Embah Dalem Cikundul. Tepat berada di tengah-tengah air terjun Cibeureum ini terdapat sebuah batu besar yang konon adalah perwujudan seorang pertapa sakti yang karena bertapa sangat lama dan tekun sehingga berubah menjadi batu. Pada hari kiamat nanti barulah ia akan kembali berubah menjadi manusia.
Diposting oleh rahmat wiranta blog's
Diposting oleh rahmat wiranta blog's
Diposting oleh rahmat wiranta blog's
Siang itu saya mendapatkan janji untuk bertemu dengan seorang perempuan separuh baya. Kami bertemu di kantor. 'Saya sebenarnya sudah bercerai,' begitu tutur perempuan itu tentang perjalanan hidupnya. 'Saya menggugat cerai suami saya dalam proses yang panjang dan melelahkan. Orang tuanya dan dia sangat berharap bisa mengasuh Bima, putra kami sebab bagi mereka. Laki-laki adalah penerus keturunan. Perempuan hanyalah dianggap sebagai 'konco wingking' (teman dibelakang). ' Ucapnya menghela napas panjang.

'Kelima saudara laki-lakinya semuanya hanya memiliki anak perempuan. Satu-satunya garis keturunannya yang memiliki anak laki-laki hanyalah kami yaitu Bima.' Wajahnya terlihat tegar. 'Perempuan mana yang tidak ingin minta cerai? Setiap gajian, dia simpan sendiri. Sementara untuk kehidupan sehari-hari dari gaji saya, untuk membantu orang tua dan adik-adik, saya harus sembunyi-sembunyi untuk mengirimkan pada mereka.' Tutur perempuan itu. Tak lama kemudian dia meminum teh hangat yang sudah sejak tadi telah disediakan.

'Barangkali gaji bapak untuk keperluan yang lebih utama seperti rumah, peralatan?' tanya saya.

'Benar Mas Agus, gajinya memang buat bayar kreditan rumah. Rumah itu sekarang dia yang meninggalinya. Sementara saya dan Bima tinggal dikontrakan.Saya dan Bima kabur dari rumah. Sejak itu dia tidak pernah mau peduli terhadap nasib kami berdua. Bahkan setiap apapun yang hendak ingin dilakukan untuk kepentingan istri dan anaknya sendiri dia selalu meminta izin ibunya. Itulah yang tidak saya suka mas,' ucapnya. Air matanya mengalir tak mampu disembunyikan kesedihan hatinya.

Dalam hati saya berpikir bahwa perempuan ini mengalami problem yang begitu berat. Problem klasik antara menantu dan mertua. Memang agak jarang saya mendengar menantu laki-laki bertengkar dengan mertua laki-laki atau menantu laki-laki bertengkar dengan mertua perempuannya namun saya hampir sering mendengar menantu perempuan bertengkar dengan mertua perempuannya. Mungkin alasan yang utama mertua perempuan merasa lebih tahu segalanya daripada menantu perempuannya, maka terlihatlah mertua perempuan cerewet bila bertemu dengan menantu perempuannya.

'Apakah Ibu pernah kemukakan perasaan ibu pada bapak?' tanya saya.

'Sudah Mas Agus dan itu tak merubah apapun.' ucapnya.

'Apa yang membuat Ibu jatuh cinta pada beliau?' tanya saya kembali.

'Suami saya itu tipe ideal, ganteng, tinggi, besar. Sifatnya jujur dan setia. Saya teringat waktu kami berpacaran dia begitu sayang pada saya. Setiap kali datang selalu membawakan makanan kesukaan saya. Dia membantu tugas-tugas kuliah, juga pekerjaan rumah, dia tidak pernah menyalahkan saya, apa lagi mencela kekurangan saya. Dimata saya, dia begtiu sempurna sebagai suami namun begitu menikah semua yang terlihat sempurna itu menjadi hilang.' tuturnya.

Saya memahami apa yang diucapkan, cintanya telah melukai hatinya, cintanya telah menenggelamkan hidupnya. 'Alhamdulillah Mas Agus, hakim telah mengabulkan gugatan cerai saya dan Bima dalam pengawasan saya sebagai ibunya. Saya tidak berharap apapun pada mantan suami saya.

'Ah, bagaimana dengan Bima, Bu?' ucap saya terlontar tanpa tersadari. Apakah Sang Ibu menyadari bahwa anaknya suatu saat membutuhkan teladan dan kebanggaan dari seorang ayah. Seorang ayah yang memberikan kehangatan bagi Bima, putranya. Pelukan kasih sayang, menemaninya bermain, menjemputnya ke sekolah atau membantunya mengerjakan PR. 'Suami saya berpesan, bila nanti Bima telah besar dan menanyakan tentang bapaknya, bilang aja sudah mati!' Tutur Sang Ibu tanpa raut muka berubah, betapa tipisnya batas cinta dan benci.

Saya tak sanggup mengucapkan sepatah katapun tentang apa yang telah dikatakannya. Begitulah orang tua tidak pernah mau mengerti kondisi anak-anaknya. Mengorbankan anak-anak yang tumbuh dan berkembang yang membutuhkan cinta kasih, pelukan hangat, dukungan dan rasa aman bagi dirinya. Sedemikian mudahkah cinta itu tenggelam dalam perceraian? Tidak adakah jalan yang lebih baik? Saya menyarankan kepada beliau agar memberikan ruang untuk islah atau rujuk kembali karena rujuk adalah perbuatan yang diridhoi oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ucapan saya telah mampu membuat beliau nampak berpikir lama dan akhirnya menyanggupinya untuk memikirkan kemungkinan untuk rujuk kembali demi masa depan Bima, putra tercintanya.

Sampailah sebulan kemudian Ibu minta ketemu kembali, Katanya ada penting yang ingin disampaikannya, saya menyarankan agar ke Rumah Amalia. Malamnya di Rumah Amalia, saya dikejutkan dengan mobil hitam, terlihat Sang Ibu keluar bersama Bima putranya dan wajah lelaki yang ganteng mirip artis film tempo doeole Robi Sugara. Bima digandengnya. Tak lama Sang Ibu memberikan salam dan memperkenalkan laki-laki sudah terlihat berumur sebagai ayah kandung Bima. 'Ooo..'Ucap saya tanpa sadar.

Beliau menyampaikan bahwa dirinya, Bima dan suami berkumpul kembali. 'Rujuk demi anak adalah pilihan terbaik Pak Agus,' ucapnya, wajahnya yang begitu tegar tak lagi bisa menyembunyikan air mata yang keluar. Suaminya membenarkan tentang kesepakatannya untuk rujuk kembali. 'Kami yakin inilah kesepakatan yang diridhoi oleh Allah seperti yang dianjurkan oleh Pak Agus. Kami rujuk kembali' tutur suaminya. Malam gelap terasa indah. Suara anak-anak Amalia terdengar melantunkan ayat-ayat suci al-Quran. Kebahagiaan mereka memilih jalan yang diridhoi oleh Allah juga saya rasakan. Subhanallah.

---
Dan perlakukanlah istri kalian dengan baik, kemudian bila kamu tidak menyukainya, maka bersabarlah karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak
Diposting oleh rahmat wiranta blog's
Sebelum membaca kisah ini, tanyakanlah hati kecil Anda. Berapa banyak waktu berharga yang Anda berikan untuk anak-anak Anda? Berapa banyak kesempatan dalam hidup ini menikmati masa2 indah bersama anak2 sebelum mereka beranjak dewasa & mempunyai kehidupannya sendiri ?

Seorang pria yang kembali terlambat pulang dari kerja, dlm keadaan letih lesu, menemukan putranya yg berusia 5 tahun sedang menantinya di depan pintu. "Papa, bolehkah saya tanya sesuatu?" "Tentu, Nak. Apa yg ingin kau tanyakan?" jawab pria tersebut. "Papa, berapa jumlah uang yang Papa peroleh dalam satu jam?" "Itu bukan urusanmu! Mengapa kamu bertanya seperti itu?" kata pria tersebut dengan marah. "Saya hanya ingin tahu. Tolong beritahukan berapa uang yang Papa peroleh dalam satu jam?" tanya anak itu. "Baiklah, bila kamu benar-benar ingin tahu. Papa mendapat 20 ribu per jam." "Oh," anak itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kemudian dia memandang kembali kepada pria tersebut dan berkata, "Papa, bolehkah saya meminjam 10 ribu?"... Lihat Selengkapnya

Dengan marah ayahnya menjawab, "Bila kamu hanya ingin tahu berapa jumlah uang yang papa peroleh dalam satu jam agar kamu dapat meminta uang untuk membeli suatu mainan konyol atau mainan tak berguna lainnya, lebih baik sekarang juga kamu pergi ke kamarmu dan tidur. Mengapa kamu begitu egois. Papa letih, bekerja keras berjam-jam setiap hari, dan tidak ada waktu untuk permainan seperti itu."
Dengan diam anak kecil itu pergi ke kamarnya dan menutup pintu. Pria tersebut kemudian duduk dan semakin bertambah marah saat ia memikirkan tentang pertanyaan putranya. Betapa beraninya ia bertanya seperti itu hanya untuk memperoleh sejumlah uang. Setelah beberapa jam, amarahnya menyurut dan ia mulai berpikir mungkin ia telah bersikap terlalu keras terhadap putranya. Lagipula putranya jarang meminta uang padanya. Lalu ia berjalan kekamar putranya & membuka pintu.

"Engkau sudah tidur, Nak?" tanya pria tersebut. "Belum, Papa" jawab anak itu. "Papa baru saja berpikir, mungkin Papa terlalu keras terhadapmu tadi," "Hari ini Papa sangat lelah dan tanpa sadar Papa jadi cepat marah. Ini uang 10 ribu yang kamu minta."Anak itu segera bangun dan berseru dengan gembira "Oh terima kash, Papa" Kemudian ia membalikkan bantalnya lalu mengambil sejumlah uang yang ada di bawahnya. Melihat bahwa putranya telah memiliki uang, pria tersebut menjadi marah lagi.

"Mengapa kamu menginginkan uang lagi, padahal kamu sudah memilikinya?" tanya ayahnya dengan jengkel. "Karena uang saya belum cukup, tapi sekarang sudah cukup."jawab anak tersebut.
Dengan perlahan anak itu menghitung uangnya dan kemudian memandang kepada ayahnya "Papa, saya sudah mempunyai uang 20 ribu. Sekarang, bisakah saya membeli satu jam dari waktu yang Papa miliki?"

Tiada Harta yg dapat membeli Waktu. Terlebih Waktu bersama orang-orang yang kita kasihi. Manfaatkanlah... Esok mungkin sudah terlambat !!!
Diposting oleh rahmat wiranta blog's
Gunung Cikuray merupakan gunung tertinggi di Garut. Tingginya tercatat 2.821 meter dari permukaan laut. Karena ketinggiannya itulah, gunung ini sangat mudah dikenali dan dilihat dari berbagai arah. Letaknya berada di selatan Kota Garut, tepatnya di antara wilayah Cilawu dan Cikajang. Selain dikenal ketinggiannya, gunung ini juga menjadi simbol kekayaan alam Garut.

Menurut para ahli sejarah, Gunung Cikuray awalnya bernama Srimanganti. Di lereng gunung ini pada zaman dulu terdapat mandala (pemukiman para pendeta), yang menjadi tujuan untuk menuntut dan mengaji bermacam-macam ilmu. Mandala ini diberi nama Gunung Larang Srimanganti. Di tempat inilah tradisi kerajaan Sunda dalam bidang tulis-menulis berlangsung sampai abad ke-17. Banyak naskah Sunda kuno yang ditulis saat itu dan menjadi obyek penelitian para ahli sejarah hingga kini. Naskah-naskah itu saat ini tersimpan di Kabuyutan Ciburuy, Cigedug, Garut.

Selain itu, sejak abad ke-19 lereng Cikuray mulai dibuka untuk lahan perkebunan teh. Salah satu perkebunan teh yang terkenal saat itu adalah Perkebunan Waspada, yang berada di sekitar wilayah Cikajang. Perkebunan ini dikelola oleh Karel Frederik Holle (K.F. Holle) yang dikenal juga sebagai penasihat pemerintah kolonial Belinda untuk urusan masya¬rakat pribumi. Waspada menjadi terkenal karena Holle menjadikan perkebunan ini sebagai tempat bereksperii-nen yang menggabungkan bisnis dan idealisms kebudayaan dengan tujuan memberdayakan masyarakat pribumi. Mika lahirlah dari tempat ini berbagai inovasi di biding kebudayaan dan pertanian, di antaranya pembudidayaan ikan air tawar, peternakan domba, dan sistem sengked untuk lahan pertanian.

Sampai saat ini pun panorama clam Gunung Cikuray banyak diminati wisatawan, baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Banyak di antara mereka yang dating ke Cikuray tergoda untuk mendaki gunung sambil melihat pemandangan di sekitarnya yang indah. Walaupun gunung ini tidak memiliki kawah seperti Gunung Guntur atau Papapandayan, tetapi panorama alamnya tidak kalah menarik dari gunung lain di gunung sekitarnya.

Jika kita berada di puncaknya, akan nampak hamparan panorama yang menakjubkan. Di sebelah selatan akan tampak birunya Samudra Indonesia. Sementara di sebelah utara akan tampak hamparan Kota Garut. Malah kalau cuaca sedang baik, puncak-puncak gunung yang jauh pun bisa kelihatan. Selain itu para pendaki juga bisa melihat pemancar relay televisi yang dibangun di lereng Gunung Cikuray. Untuk bisa naik ke Gunung Cikuray ada dua jalan yang bisa ditempuh. Pertama melalui perkebunan Dayeuh Manggung yang bisa ditempuh dari jalan raga Garut – Singaparna, Tasikmalaya. Yang kedua bisa ditempuh dari
Diposting oleh rahmat wiranta blog's
Camellia Sinensis, itulah nama indah yang diberikan oleh dedengkot taksonomi Carl Linnaeus kepada tumbuhan berdaun hijau harum yang biasa kau seduh sore hari, teh, cantik nan lentik. Camellia dilatinkan dari nama botanikus dan pastor asal Czech Georg Kamel yang menjadi pelindung kaum papa di Pilipina, sinensis dilatinkan dari China, jadi artinya kurang lebih tumbuhan berdaun hijau, pelindung, harum, berasal dari negeri tirai bambu.
Dayeuh Manggung Tea Garden
Namun nama indah tak selalu sesuai kenyataannya. Setidaknya inilah yang kualami dengan si Camellia ini. Tanpa perasaan dia telah memerangkapku. Nanti akan kuceritakan padamu.

****



Sang dukun hujan, BMKG, berulangkali memperingatkan dalam situsnya bahwa selama April ini akan terjadi hujan lebat disertai angin untuk jawa bagian barat. Menurut peta buatan manapun, Cikuray pasti diletakkan di daerah ini. Dan tersiar kabar tak sedap, Desember tahun lalu ada pendaki hilang yang hingga kini juga tak kunjung jelas keberadaanya. Namun, setelah suatu pagi, Hermes, dewa pelindung kaum pengelana, mengibas terompah bersayapnya padaku, akhirnya kuputuskan tetap mendaki.




Omong-omong soal ketinggian, Cikuray (2.821 mdpl) hanya menduduki peringkat keempat gunung tertinggi di negeri Dyah Pitaloka ini. Setelah si sulung Ciremai, Pangrango dan tentunya Gede. Namun soal tanjakan, hm, jangan coba-coba kau remehkan. Bentuknya yang mirip saudara tuanya Ciremai, tetap menawarkan tanjakan aduhai -seberat menjilat lutut istilahnya-, karena bentuknya mirip kerucut raksasa. Kaki kekarnya menggelosor ke kiri-kanan tak peduli. Dan satu lagi, di sini tak ada sumber air.

Jumat 16 April 2010 tim berkumpul di terminal Kampung Rambutan pukul 23.00 WIB. Rinto, Ari, Arif , Ariv dan aku langsung pules di dalam bis. Saat jam pergantian hari inilah -yang adalah waktu favorit bagi kaum lelembut gentayangan- bus meluncur menuju Garut via tol Padalarang. Pukul 04.00 WIB Bus memasuki terminal Guntur, Garut, kami terbangun, untunglah kami turun bus saat kaum lelembut pulang demi mendengar kokok ayam jago.

Setelah nego kiri-kanan dengan angkot liar, akhirnya ketemu kata sepakat Rp220.000 kami berlima diangkut menuju stasiun pemancar TVRI di kecamatan Cilawu. Tak tahu aku barusan buat mengangkut apa saja angkot ini, pengap dan tengik, tetapi peduli amat, kami ngantuk, dan tertidur lagi. Tak tahu sudah berapa jam angkot melaju, akhirnya terbangun ketika gardan angkot nyangkut di gundukan karena bannya masuk jalan yang mirip parit. Akhirnya terpaksa jalan kaki menuju pemancar menyusuri jalan ditengah-tengah kebun teh. Matahari sudah muncul ketika kami memasuki area Pemancar (1.450 mdpl). Langsung buka nasi bungkus yang dibeli di terminal tadi. Nasi putih anget, ikan sepat asin, tahu dan sambal terasi, aduh, sebagian surga turun ke bumi.

Pukul 07.20 WIB segera menuju jalur pendakian, dimulai dengan menerabas kebun teh milik PTPN Dayeuhmanggung. Setelah lulus tanjakan kebun teh, kami dimanjakan olah aroma khas legit Akar Wangi (Vetiveria Zizanoides). Kata petani setempat, Akar Wangi nantinya akan diproses menjadi minyak atsiri untuk bahan parfum yang bakal dipakai oleh sosok-sosok tirus semampai –kurang gizi tepatnya- yang melenggak-lenggok gemulai di atas catwalk di Paris sana. Tak perlulah kau repot-repot ke Paris, di sini, di Kabupaten Garut nan paling udik, bau wangi itu melimpah ruah dari sumbernya.

Kemudian masuk kerasak ilalang (Imperata Cylindrica), daun semampainya miring-miring ditiup angin, melambai-lambai lembut penuh racun tipuan. Oma-oma yang dulu sempat sekolah Belanda, menyebutnya Snijgrass lantaran tajam daunnya dan jika kurang awas kakimu bisa terbesot, perih. Snij- kurang lebih berarti memotong atau mengerat. Grass artinya rumput. Nah akhirnya memasuki pintu hutan.

Setelah melewati pintu hutan kurang lebih 2 jam, di sebelah kanan terdapat lembah yang diapit oleh bukit di sebelah kanannya lagi, terlihat pemandangan yang aduhai, hijau terang berselang-seling dengan hijau gelap, tumpang tindih, karena posisimu lebih tinggi dari lembah di seberang, kau dapat melihat pucuk-pucuk pohon hutan. Mungkin inilah pemandangan yang biasa dilihat oleh penguasa angkasa. Dan benar, tampak melayang anggun di sana Alap-alap Sapi (Falco Muloccensis).

Cikuray minim shelter dan penunjuk arah, hanya beberapa plang yang sudah tak jelas apa hurufnya ataupun kalau hurufnya jelas, plangnya tertekuk. Dan menurut kabar, Desember lalu ada sahabat alam yang hilang-Reni namanya-sampai saat ini belum ditemukan. Untuk mengurangi risiko tersasar, sedapat mungkin kami pasang tali raffia pada ranting, atau apapun bila kami ragu mengambil percabangan kiri atau kanan. Supaya bila salah jalur, kami dapat menusuri trek bertali raffia ini.

Jam 12.00 kami sampai entah dimana, perut kuli mulai memanggil. Buka kompor dan masak mie instan, aduh enak. Demi mencium bau mie instan, dua atau tiga Tawon Gong (Seeliphoron Mandrastatus) bersliweran mendekat, tambun dan berdengung. Treking dilanjutkan, akhirnya kami sampai pada batu besar dengan coretan penanda arah dan untungnya ada marker dari Tim SAR yang tertulis posisi 2.330 mdpl. Artinya sudah duapertiga jalan.

Trek menanjak didominasi bekas jalur air dengan akar malang melintang, sesekali pohon besar yang roboh entah berapa tahun yang lalu, menghalangi jalan sesuka hatinya. Besar dan ditumbuhi lumut, dingin, kaku dan licin. Itupun ditambah tas Cariel sialan yang nongkrong dengan cara yang paling tak sopan di pundakmu yang rata-rata membawa 14-18 kg perbekalan.

Pukul 13.30 sampai di puncak bayangan, ada juga yang menyebut puncak bohong. Di sinilah -menurut berita- Reni hilang. Konon dia ditinggal temannya untuk mencari air, namun setelah teman-temannya kembali, Reni sudah tidak ada lagi. Sampai kini, tak kunjung jelas kabar tentang keberadaannya. Sesekali terdengar gaok parau Gagak Hutan (Corvus Enca). Kutemui keanehan pertama di puncak bayangan, Gagak ini jarang berada di ketinggian di atas 1.000 mdpl, setidaknya itulah kata John Mac Kinnon dalam Bukunya Seri Panduan LIPI. Bergidik, aku teringat syair lagu pemakaman, Amazing Grace.

Yea, when this flesh and heart shall fail,
And mortal life shall cease,
I shall possess within the veil,
A life of joy and peace.

Dua tiga kali terdengar bunyi Guntur, kulihat ke langit, mungkin akan turun hujan. Kabut juga terlihat mulai menyelinap melalui sela-sela dahan. Seperti tangan-tangan berjari panjang samar-samar putih menjangkau-jangkau. Seperti jari-jari dewa kematian Hades masuk sumur neraka di film Hercules. Segera kusiapkan lampu senter, berjaga kalau-kalau penglihatan terhalang.

Bergegas kami menuju Puncak Sejati. Vegetasi masih didominasi oleh pohon-pohon tinggi, dan ditumbuhi epifit di batang-batangnya. Sehingga seperti sosok jangkung berjenggot. Beberapa pohon ada yang meranggas, mungkin tersambar petir. Trek menuju Puncak banyak batunya, jadi hati-hati karena licin oleh lumut. Setelah 2 jam merangkak, akhirnya sampai di Puncak Cikuray. Berarti total 8 jam sudah kami berjalan menanjak dari pemancar tadi pagi.


Demi melihat lukisan maha agung di puncak, rasa pegal seketika buyar, rasa ngap seketika lenyap. Dan jika kau adalah penggemar Monet -aku minta maaf padamu kawan- di sinilah, di puncak Cikuray, sejatinya akan kau lihat lukisan maha indah sang raja impresionis tiada banding.

Di sebelah barat daya, terlihat pucuk gunung Papandayan, hitam bercak putih, dingin, memamerkan julur-julur urat kasarnya, sementara agak ke bawah awan cumulus membentuk permadani kapas maha lebar, putih, bergulung, empuk. Baru kusadari, kini aku berada di atas awan.

Agak samar-samar, arah timur laut terlihat segitiga abu-abu, misterius, itulah puncak kerucut si angkuh Ciremai, masih jelas terngiang pengkhianatannya padaku Oktober tahun lalu. Awan menutupi sehingga hanya bagian puncaknya saja yang terlihat, seolah tak mengijinkanku melihat bagian bawah roknya.

Aku berani bertaruh, jika Vivaldi sempat melihat semua ini, mungkin dia akan menambah bagian dari Four Seasons Violin Concerto nya dengan kacapi sunda. Kalau boleh aku lancang sedikit -maafkan- kuusulkan di bagian La Primavera in E Major yang tersohor itu.

Di puncak Cikuray ini dinginnya seperti pabrik es, sebentar saja kau diam diluar tenda, sengatan hawa dingin begitu terasa sampai menembus sumsum. Seketika itu kau akan gemetar, dimulai dari gemelutuk gigimu kemudian sendi kaku dan ujung jari kebas. Jika angin berhembus maka sensasi kedinginan itu berlipat. Maka benarlah kata pujangga, Cikuray mungkin diturunkan dari Kukurayeun artinya bergidik. Bisa bergidik karena hawa dingin atau bertemu raja hantu.


Minggu 18 April 2010 pukul 07.58 WIB -setelah sarapan- akhirnya kami mulai perjalanan turun gunung. Tujuan pertama adalah puncak bayangan. Tak terasa hanya butuh 45 menit untuk sampai puncak bayangan. Di sini kami sempatkan untuk membuat tampungan air hujan dari botol air mineral, supaya suatu saat dapat dimanfaatkan oleh pendaki lain yang kekurangan air. Kami gantungkan di daerah agak terbuka, supaya air hujan dapat masuk. Tiba-tiba sekelebat kulihat sesosok hitam, gemuk, berjingkat-jingkat di atas tanah, berkaki kuning, itulah Jalak Kerbau (Acridotheres Javanicus). Sekali lagi kutemui keanehan di puncak bayangan, burung ini seharusnya tak muncul di ketinggian di atas 1.500 mdpl. Kuakui aroma mistis masih kental di sini.

Perjalanan ke bawah terasa cepat, tralala, trilili, tiba-tiba sudah sampai di batu besar yang ada marker tim SAR dengan tulisan 2.330 mdpl. Artinya sudah sepertiga jalan. Aneh. Memang kami sempat terjatuh beberapa kali karena licin. Tapi tak mengapa.

Beberapa kali perjalanan terhenti karena bingung memilih jalur, untungnya pas naik kami memasang tanda tali raffia, dan aneh, sepertinya ada kekuatan yang membimbing kami untuk setia dengan jalur ini. Setelah melewati hutan yang curam, akhirnya kami lihat di kejauhan ada ladang penduduk, nah itulah lading akar wangi.

Akhirnya pukul 11.59 WIB sampailah kami di pemancar TVRI. Total perjalananan dari puncak 4 jam sudah, artinya separuh waktu naik. Sekali lagi aneh. Kuterka-terka kira-kira apa yang mendorong kami begitu cepat. Tapi tak kunjung kutemukan kenapa kami begitu efektif jalan turun. Aneh.
Tiba-tiba aku melotot. Eureka! Itulah rupanya! Itulah kekuatan yang membuat aku bisa turun begitu cepat dari puncak sana. Dorongan yang membuat orang begitu efektif menyelesaikan sesuatu. Dorongannya begitu dasyat. Sayangnya fenomena kekuatan ini belum pernah dibukukan oleh cendekiawan manapun. Lamat-lamat akhirnya kurasakan sedikit pegal di bawah tulang ekorku. Dan kekuatan itu adalah, aku ingin ke ‘belakaaaaaang’.

****

Setelah selesai urusan, kami harus kembali ke jalan raya. Jika jalan kaki butuh waktu 3 jam. Untung ada 3 orang pengendara sepeda motor. Setelah tawar menawar dengan bahasa yang tak terlalu kupahami, mereka mau mengantar kami ke jalan raya. Menuju jalan raya, melintasi kebun teh. Jalan masih berupa campuran jalan aspal setengah jadi, kadang hanya batu-batu, yang disusun sekenanya, kadang setengah parit dan curam.

Motor berjalan terseok-seok. Dipersulit dengan membawa cariel sialan di punggung yang merosot tak seimbang. Aku merasa tak seharusnya seorang tukang ojek kesulitan menyetir di medan seperti ini. Karena toh mereka sudah biasa melintasi jalur ini. Motor masih terseok, kadang hampir menabrak pinggiran gundukan tanah kebun teh. Akhirnya si tukang ojek mengaku, kalau dia sejatinya bukan tukang ojek, tapi kebetulan lewat lihat-lihat pemandangan. Aduh.

Di depan sana kulihat kondisi jalan lebih curam, di kiri kanan ada genangan lumpur, terdapat batu-batu berserakan, dan kadang lubang yang tersamar oleh tingginya rumput tak jarang di kanan jurang. Dan benar, ketika ojek melintas bagian ini, roda depan melintir ke kiri, akibatnya roda belakang melintir ke kanan. Aku terlempar, melayang seperti karung beras dilempar kuli.

Belum sempat menata posisi jatuh, aku tersangkut di atas pohon teh. Kesulitan bangun karena selain beban cariel di punggung, pohon teh gila ini seperti mencengkeram kaki tanganku. Kakiku nyangkut di antara ranting teh, alih-alih berpegangan, tanganku malah merosot jauh ke bawah. Tertungging, kaku tak bergerak.
Diposting oleh rahmat wiranta blog's
Renungkan pula bagaimana proses yang mengantar kita pada kebahagiaan, ternyata di sana ada pengorbanan. Pesta perkawinan yang sangat membahagiakan ternyata harus didukung oleh pengorbanan banyak hewan yang harus disembelih. Kemerdekaan suatu bangsa juga harus didukung oleh pengorbanan sebagian dari warganya, yakni dengan gugurnya para pahlawan di medan perang. Disadari atau tidak, sebenarnya setiap pribadi harus bersedia berkorban demi kebahagiaan bersama.

Pengorbanan, sifat mengalah harus selalu ada pada diri kita demi mewujudnya kebahagiaan yang hakiki. Suatu bahaya yang mencekam ternyata melahirkan kebahagiaan berupa munculnya orang-orang pemberani yang berhasil mengusir bahaya itu. Pengalaman menderita sakit parah ternyata bisa mendatangkan rasa kebahagiaan, yakni ketika merasakan betapa nikmatnya kesehatan. Jika penderitaan itu terjadi karena kesalahan maka itu adalah tanggungjawab kita sebagai pilihan hidup kita tetapi bila tidak bersalah itulah yang disebut dengan pengorbanan, maka pengorbanan kita akan dibalas oleh Allah dengan ketinggian derajat di akhirat (Q/2:155-157) .

Menurut al Quran, Allah memberikan potensi kepada kita untuk mampu memikul kesedihan dan melupakannya. Dalam surat at Taghabun disebutkan 'Tidak satupun petaka yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia (Allah) akan memberi petunjuk kepada hatinya, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (Q/64:11).

Allah Maha Sempurna, sementara nalar kita tidak sempurna. Adakalanya kehidupan dapat dipahami oleh nalar kita dan seringkali tidak. Kita pernah diributkan oleh lirik lagu yang mengatakan bahwa takdir itu kejam, padahal takdir Allah selalu baik untuk hamba-hambaNya. Persoalan kehidupan memang bukan semata-mata problem nalar, tetapi problem juga rasa, sebagai akibat dari keinginan kita untuk selalu mendapatkan yang terbaik untuk dirinya, keluarga kita atau diri kita saja hingga melupakan yang lain. Jika problemnya demikian maka yang mampu menanggulanginya adalah ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, berperan besar dalam mencapai kebahagiaan yang hakiki, dunia dan akherat.

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.
Diposting oleh rahmat wiranta blog's
Jumat, 28 Januari 2011 di 22.19 | 0 komentar  



Malam temaram menyelimuti pepohonan. Jalanan terlihat basah karena turun rintik hujan. Anak-anak Amalia dengan khusyuknya membaca ayat-ayat suci al-Quran. Seorang laki-laki separuh baya matanya menerawang menatap kedepan. Tak ada suara dan kata yang terucap, Wajahnya nampak sejuk dan damai. Hatinya tersenyum seolah bicara, tak ada hidup yang sempurna tanpa ujian.

Sebagai seorang muslim beliau banyak diberikan kemudahan ol
eh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kehidupan datar dan lurus lalu menanjak mencapai kesuksesan dalam karier. Pernikahannya penuh kebahagiaan. terasa semakin lengkap dengan kehamilan istri tercintanya. Buah hati yang didambakan bagi seluruh anggota keluarganya namun toh, Allah memiliki rencana lain.

Putra pertamanya, hanya bertahan 24 jam berjuang bertahan hidup. Kejadian itu benar-benar membuat hidupnya merasa terpuruk dalam kubangan yang penuh lumpur, terasa sesak untuk bernapas dan membuat perih dihati. Selama berbulan-bulan beliau mengurung diri meratapi sang buah hatinya yang telah pergi. Sungguh tak terduga. Kehilangan itu terjadi justru dipuncak kesuksesan kariernya. Kejadian itu menguji keimanannya bahkan terkadang menggugat keberadaan Allah, 'Kenapa Allah tidak adil pada kami?' begitu ucapnya.

Semakin lama dirinya semakin jauh dari Allah. Tenggelam dalam pelarian semu. Namun beruntunglah masih ada istri yang sholehah yang mendampingi beliau yang mampu menghibur dan menguatkan dan mengingatkan dirinya bahwa peristiwa itu adalah ujian dari Allah agar menanamkan iman dan ketaqwaan kepadaNya.

Ujian keimanan berikutnya, justru menimpa pada istrinya. Istrinya terserang kista dirahimnya. Dokter memvonis istrinya berisiko tinggi bila hamil lagi tetapi istrinya begitu tabah bahkan mengajaknya untuk selalu berdzikir, memohon kepada Allah Sang Maha Penyembuh. Alhamdulillah setelah operasi semuanya bisa pulih kembali.

Dua ujian berat semakin menyadarkan beliau dan keluarganya agar semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Terlebih dengan kelahiran putrinya, seolah diberikan anugerah yang tiada tara. Sehingga beliau berjanji meningkatkan ibadahnya kepada Allah dan tak akan pernah berhenti untuk bersyukur. Beliau bertutur malam itu di Rumah Amalia, ' Saya sadar, Allah itu Maha Baik. Allah selalu memberikan apapun yang kami mohonkan.' Subhanallah..

--
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Diposting oleh rahmat wiranta blog's
Visit the Site
MARVEL and SPIDER-MAN: TM & 2007 Marvel Characters, Inc. Motion Picture © 2007 Columbia Pictures Industries, Inc. All Rights Reserved. 2007 Sony Pictures Digital Inc. All rights reserved. blogger templates